Awas! Bahaya HOAX Tentang Vaksin Covid-19

Covid-19 masih menimbulkan tidak sedikit kasus di Indonesia sampai saat ini. Dengan adanya program vaksinasi Covid-19, kita berharap pandemi ini usai.
ASC - Kumpulan Hoax, Mitos, dan Faktanya seputar Vaksin Covid-19
AnoSukma.com - Covid-19 masih menimbulkan tidak sedikit kasus di Indonesia sampai saat ini. Dengan adanya program vaksinasi Covid-19, kita bercita-cita pandemi ini segera mereda sampai berakhir. Namun, masih tidak sedikit orang yang meragukan kualitas vaksin dan percaya dengan sekian banyak macam hoax yang beredar di media sosial.

Kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia kian diperburuk dengan banyaknya hoaks yang beredar di masyarakat, tergolong soal vaksin. Kabar palsu yang terus berkembang ini menyulitkan penanganan karena tidak sedikit masyarakat yang terpengaruh. Bahkan, tidak sedikit yang tidak mengakui eksistensi virus Covid-19 dan memandang pandemi ini sebatas rekayasa.

Akibatnya, tidak sedikit yang abai menjalanankan protokol kesehatan dan tak mau divaksin. Padahal, dua teknik ini ialah cara terbaik untuk meminimalisir risiko penyebaran virus supaya kondisi pulang normal.

Sayangnya, masih tidak sedikit menolak vaksinasi sebab terjebak teori konspirasi maupun kabar burung yang tidak menurut. Informasi palsu ini menyebar dengan cepat lewat Whatsapp maupun media sosial, membuat tidak sedikit keluarga dan kerabat terpecah. Maka dari itu, yuk pelajari lebih lanjut mengenai vaksinasi Covid-19 agar Anda tidak termakan hoax!

Apa itu vaksin?

Vaksinasi ialah proses pemberian produk biologi (vaksin) ke dalam tubuh dimana akan menyusun kekebalan atau terlindungi dari sebuah penyakit. Vaksin terbagi menjadi 5 tipe, yakni:
  • Vaksin yang hidup (Live Attenuated)
  • Vaksin yang telah dimatikan (Inactivated/Killed Antigen)
  • Vaksin yang mengandung sub unit dari antigen
  • Vaksin yang mengandung toksoid (Toksin yang telah di inaktivasi)
  • RNA Based
Hingga ketika ini, vaksin yang diamini oleh Kemenkes dan dipakai di Indonesia adalah produksi dari PT Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer Inc. dan BioNTech, SinovacLife Sciences Co., Ltd., dan Novavax Inc.

Apakah saya boleh divaksin? Dan apa saja kriterianya?

ASC - Kumpulan Hoax, Mitos, dan Faktanya seputar Vaksin Covid-19
Berdasarkan rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Anda pantas divaksinasi andai berusia 12-59 tahun dan dalam kondisi jasmani sehat yakni suhu tubuh di bawah 37,5°C dan desakan darah tidak lebih dari 180/110 mmHg. Bagi yang berusia >59 tahun, kelayakan vaksinasi ditentukan oleh situasi frailty (kerapuhan) yang didapatkan dari kueisoner RAPUH. Di samping itu, penyintas Covid-19, penyakit jantung koroner, kanker, penyakit paru obstruktif kronis dan penyakit ginjal kronis dialisis pantas mendapatkan vaksin dengan daftar dalam situasi stabil dan cocok rekomendasi dokter berpengalaman di bidang bersangkutan. Apabila ada keraguan, maka segera konsultasikan dengan dokter.

Lalu, siapa saja yang belum pantas untuk divaksin?

Anda belum pantas divaksin andai sedang merasakan infeksi akut, mempunyai reaksi alergi berupa anafilaksis dan reaksi alergi berat dampak vaksin Covid-19 takaran kesatu ataupun dampak dari komponen yang sama yang terdapat dalam vaksin Covid-19 dan mempunyai penyakit imunodefisiensi primer.

Berdasarkan keterangan dari dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid selaku Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes RI, vaksin yang dipakai sudah melewati uji klinis bertahap sampai terjamin aman, halal, dan efektif. Distribusi dan penyimpanan vaksin pun sesuai dengan standar formalitas operasional supaya kualitasnya tetap terjaga.

Perlu diketahui jika Anda mengejar produk vaksin Covid-19 yang dipasarkan bebas secara daring, dilarang guna membelinya sebab ada kemungkinan tersebut vaksin palsu menilik proses penyaluran vaksin yang ketat.

Kumpulan HOAX dan Mitos tentang Vaksin Covid-19

Hoax mengenai vaksin tidak sedikit beredar di masyarakat. Kabar yang menyesatkan tersebut menciptakan sejumlah masyarakat memilih guna tidak menyerahkan vaksin untuk anak mereka. Penting untuk Anda untuk memahami fakta-fakta dari hoax yang beredar supaya anak kita tetap terlindungi dari sekian banyak penyakit.

Penting untuk mengetahui fakta-fakta mengenai Covid-19 supaya tidak gampang termakan informasi palsu yang beredar melewati media sosial maupun aplikasi pengiriman pesan.

Untuk menolong memerangi hoaks yang menyebar dilingkungan sekitar kita, berikut ialah penjelasan soal sekian banyak hoax dan mitos seputar vaksin Covid-19 yang salah kaprah.

ASC - Kumpulan Hoax, Mitos, dan Faktanya seputar Vaksin Covid-19

1. Mitos: Vaksin Covid-19 tidak aman sebab dikembangkan dengan cepat

Fakta: Vaksin Covid-19 terbukti aman sebab telah melewati serangkaian proses pengujian dengan standar yang ketat.

Berbagai langkah uji klinis mesti dilalui hingga vaksin Covid-19 terbukti aman dan efektif serta mendapat Emergency Use Authorization (EUA) atau otorisasi pemakaian darurat.

2. Mitos: Vaksin Covid-19 akan mengolah DNA

Fakta: Vaksin Covid-19 tidak mengolah atau berinteraksi dengan DNA dengan teknik apapun sampai-sampai tidak benar andai vaksin dapat mengolah DNA.

Baik vaksin MRNA maupun vektor virus Covid-19 mengantarkan instruksi (materi genetik) ke sel untuk membina perlindungan terhadap virus corona. Namun, pelajaran genetik tersebut tidak pernah menginjak inti sel, yang adalah tempat DNA tersimpan.

3. Mitos: Orang yang divaksin Covid-19 bakal positif Covid-19

Fakta: Tidak terdapat vaksin Covid-19 sah yang dapat mengakibatkan seseorang positif terkena virus corona.

Vaksin bertujuan untuk membina antibodi terhadap virus dan meminimalisasi risiko fenomena serius andai terinfeksi Covid-19.

4. Mitos: Vaksin Covid-19 sebabkan kemandulan pada wanita

Fakta: Informasi yang menuliskan vaksin Covid-19 sebabkan kemandulan pada wanita ialah tidak benar.

Para berpengalaman mengatakan, urutan asam amino (dibagi antara protein spike dan protein plasenta) terlampau pendek untuk merangsang respons imun dan tidak memengaruhi kesuburan.

5. Mitos: Sudah pernah terinfeksi Covid-19 tidak butuh divaksinasi

Fakta: Seseorang yang telah pernah terinfeksi Covid-19 tetap mesti divaksinasi. Saat ini, para berpengalaman belum memahami berapa lama seseorang terlindungi dari virus sesudah sembuh dari Covid-19.

Kekebalan yang didapatkan dari infeksi, yang dinamakan kekebalan alami, bervariasi antar orang. Beberapa bukti mula mengatakan, kekebalan alamu barangkali tidak bertahan lama.

6. Vaksin tidak berbobot dan tidak berkualitas karena diciptakan terburu-buru

Salah satu hoaks yang menyebar menyebut, vaksin Covid-19 diciptakan dengan terburu-buru sampai-sampai tidak efektif dan memiliki tidak sedikit efek buruk pada tubuh. Vaksin yang terdapat tidak dipersiapkan dengan pantas dan tidak diuji klinis.

Faktanya, kondisi terpaksa pandemi global sudah memungkinkan penambahan pendanaan dan upaya supaya perusahaan farmasi bisa mengembangkan vaksin tepat waktu. Hal ini belum pernah terjadi pada penciptaan vaksin sebelumnya. Waktu yang dipersingkat bukan berarti tidak dilaksanakan sesuai protokol atau menghilangkan pengujian menyeluruh.

FDA, lembaga obat dan pangan di AS, pun tidak memperbolehkan pemakaian terpaksa vaksin virus corona tanpa menuntaskan tinjauan independen yang ketat dengan sekian banyak tahap uji klinis.

"Urgensi situasi ialah tekanan yang menurut keterangan dari saya paling penting untuk kita semua," kata Stephen Hahn, MD, komisaris FDA. Menurutnya, semua ilmuwan menyadari ini dan bekerja dengan kecepatan tinggi. Proses buatan vaksin pun tetap menjaga komitmen untuk memakai data dan sains.

Berdasarkan keterangan dari FDA, produsen biofarmasi mesti mengekor peserta studi paling tidak sekitar dua bulan setelah menuntaskan seri vaksinasi, guna meyakinkannya aman dan efektif, supaya layak menerima otorisasi pemakaian darurat.

7. Vaksinasi menciptakan seseorang kebal Covid-19

Banyak orang meragukan vaksin sebab masih terdapat penerima vaksinasi yang merasakan infeksi Covid-19. Anggapannya, vaksinasi akan menciptakan kita benar-benat terbebas dari penyebaran virus ini.

Hal ini pasti saja salah karena, seperti banyak sekali vaksin, semua ilmuwan mengantisipasi bahwa vaksin COVID-19 tidak bakal 100 persen efektif.

Sudah divaksin bukan berarti abai menjalankan protokol kesehatan, tidak mengenakan masker dan kebal terhadap virus.

Di samping itu, perlu waktu supaya mayoritas populasi telah divaksin supaya terbentuk kekebalan komunal sebab distribusinya yang terbatas.

8. Vaksin Covid-19 Mengandung Microchip Magnetik

Salah satu hoaks yang sempat heboh ialah vaksin Covid-19 dibuat supaya manusia bisa disusupi microchip magnetik. Ditandai dengan koin yang dapat menempel di lengan orang yang telah divaksin.

Kabar ini telah ditentang langsung oleh pemerintah Indonesia lewat laman https://covid19.go.id. Hasil periksa kenyataan Fathia Islamiyatul Syahida dari Universitas Pendidikan Indonesia menyatakan, reaksi magnetis sebagai efek samping vaksin sama sekali tidak berdasar.

Departemen Kesehatan Masyarakat Los Angeles pun telah menyangkal hoaks yang menyebytka vaksin sebagai upaya Bill Gates mengontrol manusia. Tidak terdapat yang terbelakang di tubuh di samping vaksin, seperti ditetapkan langsung oleh Yayasan Bill dan Melinda Gates.

9. Jarum terbelakang di lengan sesudah vaksin

Ketika mula program vaksinasi, tidak sedikit potongan video beredar dengan narasi bahwa jarum terbelakang di tubuh seseorang yang telah divaksin. Faktanya, jarum yang dipakai ialah retractable needle alias dapat ditarik ke laras suntikan sesudah vaksin diberikan.

Setelah divaksinasi, kita dapat melihat bahwa tidak terdapat cairan yang tersisa di dalam tabung suntik dan jarum sedang di dalam laras tersebut.

Jika tetap tidak yakin, mintalah untuk menyaksikan jarum suntik sebelum dan setelah divaksin guna meyakinkan tidak terdapat jarum yang terbelakang di tubuh.

10. Vaksin Covid-19 mengakibatkan kemandulan

Keenganan guna divaksin pun muncul sebab salah kaprah bakal pengaruhnya pada tubuh wanita. Hal ini sebab hoaks yang mengaku vaksin Covid-19 dapat mengakibatkan kemandulan sampai-sampai wanita tak dapat bereproduksi.

Informasi yang menyebar, vaksin mengajar tubuh guna menyerang syncytin-1, protein dalam plasenta, yang dapat mengakibatkan kemandulan pada wanita. Kenyataannya, terdapat urutan asam amino yang dipecah antara protein lonjakan dan protein plasenta.

Para pakar mengatakan tersebut terlalu singkat untuk merangsang respons kekebalan dan karenanya tidak memengaruhi kesuburan.

11. Vaksin tidak aman dan punya efek samping yang merugikan

ASC - Kumpulan Hoax, Mitos, dan Faktanya seputar Vaksin Covid-19
Fakta: Vaksin aman dipakai untuk manusia.

Semua vaksin yang mempunyai izin sudah diuji berkali-kali sebelum diizinkan untuk dipakai pada manusia. Peneliti pun selalu memonitor masing-masing informasi yang didapat tentang efek samping yang hadir setelah pemberian vaksin.

Sebagian besar efek samping yang timbul sesudah pemberian vaksin hanyalah efek samping yang ringan. Penderitaan yang dirasakan oleh sebab penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin lebih berat dikomparasikan pemberian vaksin tersebut sendiri.

12. Vaksin tidak alami

Fakta: Vaksin memakai respon alami insan terhadap penyakit untuk merangsang sistem pertahanan tubuh manusia. Sebagian orang percaya bahwa pemberian vaksin tidak alami, dan andai seseorang terinfeksi penyakit secara langsung akan menyerahkan kekebalan tubuh yang lebih kuat. Namun, andai Anda lebih memilih guna menderita penyakit tertentu supaya mendapat kekebalan dan tidak dilaksanakan vaksin, malah Anda mesti menerima konsekuensi yang lebih serius.

Penyakit laksana tetanus dan meningitis bisa membunuh Anda, sementara vaksin bisa ditoleransi dengan baik oleh tubuh dan efek samping yang ringan. Dengan perlindungan vaksin, Anda pun tidak perlu menikmati penderitaan sebab penyakit guna mendapatkan kekebalan sekaligus menghindari komplikasi yang terjadi dampak penyakit.

13. Vaksin mengakibatkan autisme

Fakta: Pada tahun 1998 ada sebuah riset yang menuliskan bahwa terdapat bisa jadi hubungan antara pemberian vaksin MMR dengan autisme, tetapi ternyata riset tersebut salah dan hanyalah suatu penipuan. Penelitian tersebut sudah ditarik dari jurnal yang mempublikasikannya pada tahun 2010.

Sayangnya, urusan itu sempat menciptakan kepanikan pada masyarakat sampai-sampai pemberian vaksin berkurang dan hadir wabah. Tidak terdapat bukti ilmiah yang menuliskan ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.

14. Vaksin mengakibatkan asma atau alergi

Fakta: Tidak terdapat bukti ilmiah yang menuliskan bahwa pemberian vaksin dapat mengakibatkan atau memperburuk penyakit asma atau alergi. Justru mereka yang menderita asma atau alergi disarankan untuk mendapat vaksin yang lengkap sebab penyakit laksana pertusis dan flu bisa memperburuk situasi asma. Pada sejumlah orang memang bisa terjadi alergi pada pemberian vaksin, tetapi risikonya paling rendah. Angka kejadian terjadinya alergi berat melulu 1 dari satu juta pemberian vaksin.

15. Penyakit infeksi ialah hal yang normal, unsur dari perkembangan anak

Fakta: Penyakit yang dapat ditangkal oleh vaksin beberapa besar ialah penyakit-penyakit yang serius dan mematikan, tetapi berkat pemberian vaksin, penyakit-penyakit tersebut telah jarang ditemukan. Sebelum pemberian vaksin, tidak sedikit penderita polio yang mesti bernapas dengan alat tolong pernapasan, anak-anak yang drainase napasnya tersumbat dampak difteri, ataupun anak-anak yang mengalami kehancuran otak dampak infeksi campak!

16. Vaksin berisi pengawet yang beracun

Fakta: Setiap vaksin berisi pengawet untuk menangkal pertumbuhan bakteri ataupun jamur. Pengawet yang sangat sering digunakan ialah thiomersal yang berisi ethyl mercury. Ethyl mercury sendiri tidak mempunyai efek buruk terhadap kesehatan. Merkuri yang beracun ialah methyl mercury yang mempunyai efek beracun terhadap sistem saraf insan sehingga tidak dipakai sebagai pengawet.

Ethyl mercury sendiri telah dipakai sebagai pengawet vaksin sekitar 80 tahun lebih dan tidak terdapat bukti ilmiah yang menuliskan bahwa thiomersal yang berisi ethyl mercury berbahaya.

17. Vaksin COVID-19 Mengandung Mikrocip Magnetis

Baru-baru ini beredar narasi yang melafalkan vaksin COVID-19 berisi mikrocip magnetis. Narasi itu tidak benar dan masyarakat diminta tidak terpengaruh.

Beberapa video mengenai hoax tersebut sudah beredar di media sosial. Unggahan-unggahan tersebut mengindikasikan seseorang menempatkan koin duit Rp.1.000 di lengan bekas suntikan vaksinasi COVID-19.

Hasilnya koin menempel seolah memperlihatkan narasi vaksin COVID-19 yang berisi mikrocip magnetis ialah benar.

Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro menuliskan persoalan itu perlu dikaji dengan baik. Ia menyatakan lubang jarum suntik paling kecil, tidak terdapat partikel magnetik yang dapat melewati.

"Vaksin mengandung protein, garam, lipid, pelarut, dan tidak berisi logam. Jadi perlu diterangkan bahwa berita tersebut hoax," katanya. Lebih jauh Jubir Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmidzi menuliskan vaksin berisi bahan aktif dan non aktif, dimana bahan aktif mengandung antigen dan bahan non aktif mengandung zat guna menstabilkan, mengawal kualitas vaksin supaya saat disuntikan masih baik.

Adapun jumlah cairan yang disuntikan melulu 0,5 cc dan bakal segera menyebar di semua jaringan sekitar, sampai-sampai tidak terdapat carian yg tersisa.

"Sebuah logam bisa menempel di permukaan kulit yang lembab seringkali disebabkan keringat. Pecahan duit loga seribu rupiah tercipta dari bahan nikel dan nikel bukan bahan yang dapat menempel sebab daya magnet," ucapnya.

18. Hoax Vaksin Covid-19 Mempercepat Kematian

ASC - Kumpulan Hoax, Mitos, dan Faktanya seputar Vaksin Covid-19
Di tengah penanganan lonjakan permasalahan positif Covid-19 dan mengganasnya varian baru, hadir kabar palsu yang meresahkan. Disebutkan bahwa seseorang yang telah divaksin bakal lebih cepat meninggal dunia. Analisis itu dianggap berasal dari ilmuan dari firma vaksin Pfizer.

"Untung aku belum di vaksin," tulis akun Muhammad Al Fais sembari mengunggah suatu capture berita kemarin (20/6). Berita dalam capture tersebut diberi judul, Yang Sudah Divaksin Siap-Siap Mati Dini. Isinya melafalkan bahwa Mike Yeadon, bekas ketua saintis di firma vaksin Pfizer, mengaku bahwa sekarang sudah amat terlambat untuk mengamankan siapa yang telah divaksin Covid-19 (bit.ly/MatiDini).

Unggahan tersebut disertai link yang mengarah ke tulisan dari portal lifesitenews.com pada 7 April 2021. Judulnya berbunyi, EXCLUSIVE – Former Pfizer VP: Your government is lying to you in a way that could lead to your death. Tanpa keterangan yang gamblang, tulisan tersebut mengasumsikan bahwa destinasi akhir pemerintah dalam mengharuskan vaksinasi ialah mengurangi populasi secara besar-besaran (bit.ly/YangSudahDivaksin).

Menanggapi urusan itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Chairul Anwar Nidom menegaskan bahwa informasi itu menyesatkan. Dia mengatakan, vaksin sudah melewati sekian banyak uji klinis. Misalnya, uji praklinis melalui hewan dan uji klinis pada manusia.

"Jika terdapat yang membahayakan penerima vaksin, tentu diketahui sejak mula uji klinis. Baik ketika diujikan kepada hewan maupun manusia," katanya ketika dihubungi Jawa Pos kemarin (20/6).

Situs cek fakta Snopes pun mengulas informasi itu. Disebutkan bahwa Mike Yeadon bekerja sebagai wakil presiden dan kepala ilmuwan di unit riset penemuan obat Pfizer. Divisi yang dipimpinnya berfokus pada riset medis alergi dan pernapasan, bukan vaksin dan penyakit menular.

Berdasarkan keterangan dari Snopes, klaim yang diciptakan Yeadon mengenai seseorang bakal meninggal lebih cepat sesudah divaksin itu merupakan penjelasan yang tidak berdasar. Juga tidak mempunyai bukti ilmiah yang empiris.

Kantor berita Reuters pun memuat penyangkalan atas informasi dari Mike Yeadon, tergolong soal imunitas. Para berpengalaman mencontohkan mengenai uji klinis vaksin Pfizer/BioNTech yang 95 persen efektif menangkal infeksi Covid-19. Kecuali di Qatar yang mengindikasikan bahwa Pfizer bisa jadi kurang efektif dengan efektivitas 75 persen saat melawan varian dari Afrika Selatan.

Antibodi alami yang dikembangkan sesudah seseorang pulih dari Covid-19 barangkali dapat menutup varian baru. Tetapi, mereka tetap perlu menambah kewaspadaan dengan tetap menambah protokol kesehatan. Anda bisa membacanya di bit.ly/SoalVaksin.

Fakta: Klaim vaksin mempercepat seseorang meninggal dunia dibantah oleh banyak ahli kesehatan. Sebab, vaksin sudah melalui sekian banyak tahapan uji klinis. Jika vaksin berbahaya, pasti dapat ditangkal lebih awal.

19. CDC Rilis Data 7 dari 10 Warga AS Enggan Divaksin Covid-19

Beredar di media sosial artikel yang mengklaim Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merilis survei yang menyinggung 7 dari 10 penduduk AS tak mau divaksin covid-19. Postingan ini tidak sedikit menyebar semenjak akhir bulan lalu.

Salah satu akun yang mempostingnya mempunyai nama Dari Yordanova. Ia mengunggahnya di Facebook pada 24 Mei 2021. Dalam postingannya ada narasi:

"Turns out CDC quietly released data showing that 7 out of 10 Americans are declining the experimental gene therapy. While the world is trying to convince you you’re on the fringe of humanity you’re actually in the majority."

atau dalam Bahasa Indonesia:

"Ternyata CDC diam-diam merilis data yang mengindikasikan bahwa 7 dari 10 orang Amerika menampik terapi gen eksperimental. Sementara dunia mengupayakan meyakinkan kita bahwa Anda sedang di pinggiran kemanusiaan, kita sebenarnya ialah mayoritas."

Lalu benarkah artikel yang mengklaim CDC merilis data yang menyinggung 7 dari 10 penduduk AS tak mau divaksin covid-19?

Hasil pencarian artikel yang mengklaim CDC merilis data yang menyinggung 7 dari 10 penduduk AS tak mau divaksin covid-19 ialah tidak benar.

20. Darah dari Pendonor yang Sudah Divaksin Covid-19 Berbahaya

ASC mendapati klaim darah dari pendonor yang telah divaksin Covid-19 berbahaya. Klaim itu berupa video yang diunggah akun Facebook Secreet Society, pada 24 Mei 2021.

Unggahan klaim darah dari pendonor yang telah divaksin Covid-19 riskan tersebut diberi penjelasan sebagai berikut:

"BAHAYA DONOR DARAH DARI ORANG YANG SUDAH DI VAKSIN"
Video itu menayangkan sel darah, botol vaksin dan seorang yang sedang mengerjakan transfusi darah yang diiringi dengan narasi dalam bahasa Inggris dan ada terjemahan sebagai berikut:

"Perhatikan dengan cermat poin-poin yang bakal saya tampilkan, transfusi darah sangat urgen dan mengamankan nyawa, bakal tetapi pemakaian vaksin Covid-19 yang tersebar luas memunculkan pertanyaan besar. Dara orang yang telah divaksin donor darah dari yang telah divaksin apakah aman andai penerima donor dara dari orang yang sudah disuntik vaksin Covid-19?.

Bisakah anda meminta donor darah melulu dari orang yang belum divaksin, sebagai tahapan pencegahan? Tampaknya tidak terdapat orang yang merundingkan tentang urusan ini secara publik mengenai isu ini. Bagi ini kami menyimpulkan untuk mencari pendapat situs Transfusi Dari sekian banyak negara.

Tidak terdapat satupun riset yang menguji tingkat ketenteraman pendonoran darah dari yang telah divaksin untuk yang belum, laksana kita ketahui bersama, terdapat tidak sedikit efek samping dari vaksin Covid-19 ribuan orang sudah mati dan jutaan kasus akibat buruk dampak vaksin ini.

Vaksin mRNA tercipta dari Protein Spike virus. Yang dapat mengakibatkan resiko kesehatan serius laksana timbulnya penyakit auto-imun. Reaksi antibodi & protein darah dapat mengganggu sistem koagulasi darah dan mengakibatkan penyumbatan dara yang telah didokumentasikan dengan baik oleh VAERS.

Bagaimana andai seorang memerlukan lima kantung darah di ruangan gawat darurat? Implikasi kesehatan apa yang bakal terjadi ketika menerima kantong darah dari orang yang telah divaksin?

Belum terdapat studi tingkat ketenteraman yang lumayan untuk isu ini? Orang yang telah divaksin masih diperbolehkan untuk mendonorkan darahnya, sebenarnya kandungan di dalam vaksin dapat menimbulkan raksi yang menakut-nakuti nyawa seseorang, dapat dengan mudahnya mengotori darah si penerima, barangkali saat ini kamu belum memerlukan dono darah, namun siapa tahu nantinya.

Mohon sebarkan video ini & ucapkan pesan untuk otoritas kesehatan di wilayah anda.

Untuk menampik donor darah dari orang yang telah divaksin Covid-19.Semua vaksin Covid-19 masih dalam etape fase uji coba. Oleh karena tersebut donor darah dari orang yang sedang dijadikan objek eksperimen, sangatlah tidak etis & terlarang.

Jadi apakah pantas untuk menerima donor dara dari mereka yang baru saja divaksin? Benarkah klaim darah dari pendonor yang telah divaksin Covid-19 berbahaya?
"

Hasil pencarian ASC, klaim darah dari pendonor yang telah divaksin Covid-19 beresiko tidak benar.

Darah pendonor yang telah divaksin Covid-19 tidak bakal merusak antibodi pemakainya, sampai-sampai orang yang telah divaksinasi tetap bisa mendonorkan darahnya laksana biasa.

21. Uji Coba Vaksin Covid-19 Diterapkan ke Manusia Setelah Membuat Hewan Mati

ASC mendapati klaim uji jajaki vaksin Covid-19 diterapkan ke manusia sesudah membuat hewan mati. Klaim itu beredar melalui software percakapan WhatsApp.

Klaim uji jajaki vaksin Covid-19 diterapkan ke manusia setelah membuat hewan mati berupa video yang dianggap menampilkan sidang majelis Texas.

Video tersebut memperlihatkan seorang yang duduk menghadap sebanyak orang, pada video itu ada tulisan "SEMUA HEWAN MATI AKIBAT UJI COBA VAKSIN COVID SEKARANG MEREKA MENERAPKAN KE MANUSIA". Orang dalam video tersebut memakai bahasa asing.

Benarkah klaim uji jajaki vaksin Covid-19 diterapkan ke manusia setelah membuat hewan mati? Simak pencarian ASC.

Hasil pencarian ASC, klaim uji jajaki vaksin Covid-19 diterapkan kemanusia sesudah membuat hewan mati tidak benar.

Vaksin yang diuji sekitar uji praklinis tidak menyebabkan hewan mati, pun tidak berhenti karena hewan mati.

22. Orang yang Sudah Divaksin Covid-19 Akan Mati Dalam 2 Tahun

Beredar melalui aplikasi percakapan pesan berantai yang mengandung klaim berhubungan orang yang bakal meninggal dunia dalam dua tahun sesudah divaksin covid-19. Beredar pesan berantai melalui aplikasi percakapan yang mengandung klaim berhubungan orang yang bakal meninggal dunia dalam dua tahun sesudah divaksin covid-19. Pesan berantai itu beredar sejak awal bulan lalu.

Dalam pesan berantai yang beredar klaim ini dikatakan oleh Mike Yeadon, bekas Ketua Saintis di firma vaksin Pfizer. Berikut isi klaim dalam pesan berantai itu selengkapnya:

"YANG SUDAH DIVAKSIN SIAP2 MATI DINI
Mike Yeadon bekas ketua saintis di firma vaksin pFizer mengaku bahwa sekarang sudah amat terlambat untuk mengamankan siapa yang telah divaksin covid 19.

Beliau menyeru untuk semua yang belum menerima vaksin yang dapat membunuh tersebut untuk berusaha demi kesinambungan insan dan nyawa anak2.

Pakar imunisasi familiar ini mengingatkan kenyataan bhw proses menurunkan jumlah besar insan yang hidup pada masa kini.

Sejurus selepas suntikan vaksin kesatu terdapat sebanyak 0.8% bakal mati dalam masa 2 minggu.

Mereka yang bertahan dijangka akan dapat bertahan hidup selama 2 tahun, namun keterampilan tersebut dikurangi dengan peningkatan top-up suntikan vaksin.

Penambahan vaksin yang sedang diciptakan sekarang ialah untuk mengakibatkan kemorosotan faedah organ tertentu dalam badan insan - termasuklah jantung, paru-paru dan otak.

Dengan menyadari secara mendalam hasil investigasi dan pembangunan farmaseutikal gergasi tersebut, pFizer sekitar 2 dekade, Profesor Mike Yeadon mengaku tujuan terakhir pemerintah enyediakan vaksin yang diharuskan pada masa kini melulu menyebabkan pengurangan populasi secara besar-besaran yang mana akan menciptakan semua perang dunia, bila digabungkan, kelihatan satu buatan Mickey Mouse.

Milyaran manusia sekarang sudah diangkut kearah kematian yang tidak diketahui dan menyengsarakan.

Setiap orang yang telah disuntik akan mendatangi kematian sebelum waktunya, dan perkiraannya sangat masa sangat lama sesorang bertahan hidup sekitar 3 tahun
".

SELENGKAPNYA BACA DISINI:
https://www.lifesitenews.com/news/exclusive-former-pfizer-vp-your-government-is-lying-to-you-in-a-way-that-could-lead-to-your-death

Lalu benarkah klaim yang menyebut orang yang sudah divaksin covid-19 akan menghadapi kematian pada dua tahun mendatang?

Hasil penelusuran ASC, klaim yang menyebut orang yang sudah divaksin covid-19 akan menghadapi kematian pada dua tahun mendatang adalah tidak benar.

Itulah sedikit dari banyaknya mitos dan juga hoax yang beredar seputar vaksin covid-19. Jangan mau dibodohi, jangan menyesal kemudian. Mari dukung pemerintah dalam menyukseskan program vaksinasi ini agar supaya Indonesia segera bebas dari Covid-19.

Hotline Virus Corona 119 ext 9. Bagi informasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melewati nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (ASC)
Lihat artikel terbaru dan menarik lainnya di Google News
Baca Juga:

Posting Komentar

© AnoSukma.com - Situs informasi pendidikan dan dunia hiburan masa kini. Developed by www.niadi.net | sadamantra